Sejarah Jepang Dibikin Belok! Ini Fakta di Balik Dunia Steam-Punk Anime Nijusseiki Denki Mokuroku

Kalau biasanya anime berlatar Jepang masa lalu hanya memakai kimono, kuil, samurai, atau kehidupan masyarakat zaman dahulu sebagai pemanis cerita, Nijusseiki Denki Mokuroku – Eureka Evrika – justru melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik.

Anime terbaru Kyoto Animation ini mengambil latar Kyoto pada awal abad ke-20, tetapi kemudian membelokkan sejarahnya menjadi sebuah dunia alternatif. Di dunia tersebut, mesin uap berkembang sangat pesat, sementara teknologi listrik justru belum menjadi bagian utama kehidupan masyarakat. Akibatnya, kota Kyoto dipenuhi asap dan perkembangan teknologi berjalan dengan jalur yang berbeda dari sejarah sebenarnya.

Jadi, kalau selama menonton kamu merasa, “Lah, ini sejarah Jepang beneran atau bukan sih?”, jawabannya memang nggak sepenuhnya nyata.

Nijusseiki Denki Mokuroku mengambil fondasi sejarah Jepang yang nyata, kemudian mencampurnya dengan sejarah alternatif, fiksi, dan imajinasi teknologi.

Hasilnya? Jepang era Meiji rasa steampunk. ⚡🚂

Kyoto yang Nyata, Tapi Sejarahnya Dibikin Belok

Cerita anime ini berlangsung di Kyoto awal abad ke-20, tepatnya ketika Jepang sedang mengalami perubahan besar.

Namun, Kyoto yang ditampilkan bukanlah rekonstruksi sejarah 100 persen.

Situs resmi anime secara terang-terangan menyebut bahwa dunia ceritanya merupakan Kyoto awal abad ke-20 yang berkembang secara berbeda dari sejarah yang kita kenal. Dalam dunia tersebut, hanya teknologi mesin uap yang berkembang dan kota tertutup asap.

Konsep ini menjadi dasar utama cerita.

Bayangkan dunia ketika mesin uap menjadi teknologi paling maju, sementara listrik masih seperti sesuatu yang belum ditemukan.

Padahal dalam sejarah nyata, Jepang pada era Meiji justru sedang mengalami modernisasi besar-besaran dan mulai mengenal penggunaan listrik.

Nah, anime ini mengambil titik tersebut lalu bertanya:

“Bagaimana kalau perkembangan teknologinya mengambil jalan yang berbeda?”

Dari sinilah dunia Nijusseiki Denki Mokuroku terbentuk.

Era Meiji-nya Nyata, Tapi Dunia Alternatifnya Fiksi

Ada satu hal yang membuat anime ini menarik untuk dibahas dari sisi sejarah.

Setting waktunya memang berakar pada sejarah Jepang.

Versi novel aslinya menempatkan cerita pada Meiji 40, yang bertepatan dengan 1907, di kawasan Fushimi, Kyoto. Novel tersebut juga menggambarkan periode ketika budaya Jepang dan pengaruh Barat mulai bercampur.

Pada masa tersebut, Jepang memang sedang mengalami modernisasi.

Teknologi Barat mulai masuk.

Industri berkembang.

Transportasi berkembang.

Kehidupan masyarakat mulai berubah.

Dan listrik mulai menjadi bagian dari proses modernisasi Jepang.

Tetapi anime ini kemudian membuat sebuah perubahan besar:

bagaimana jika listrik tidak berkembang seperti dalam sejarah kita?

Akibatnya, teknologi uap menjadi jauh lebih dominan.

Itulah alasan dunia anime terasa seperti perpaduan antara Jepang era Meiji + steampunk + sejarah alternatif.

Kenapa Listrik Jadi Sesuatu yang “Gila” di Anime Ini?

Inilah bagian paling keren dari konsepnya.

Bagi kita, listrik sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa.

Lampu? Biasa.

Kipas? Biasa.

Televisi? Biasa.

Internet? Bahkan kita nggak bisa hidup tanpa itu. 😭

Namun bagi dunia Nijusseiki Denki Mokuroku, listrik justru merupakan sesuatu yang bisa mengubah masa depan.

Tokoh utama, Sakamoto Kihachi, percaya bahwa abad ke-20 seharusnya menjadi “zaman listrik”.

Ia bahkan menuliskan berbagai ide penemuan listrik ke dalam sebuah buku bernama Nijusseiki Denki Mokuroku, atau Katalog Listrik Abad ke-20.

Buku tersebut bukan sekadar catatan biasa.

Bagi Kihachi, buku itu merupakan gambaran tentang masa depan yang ingin ia wujudkan.

Dan di sinilah cerita mulai menjadi jauh lebih besar.

Kihachi dan Mimpi Membawa Dunia Menuju Era Listrik

Kihachi adalah anak laki-laki berusia 15 tahun yang sangat terobsesi dengan listrik.

Ketika masih kecil, ia bersama kakaknya, Sakamoto Seiroku, bermimpi mewujudkan berbagai penemuan listrik.

Namun mimpi tersebut hancur ketika Seiroku pergi berperang dengan membawa Denki Mokuroku dan tidak pernah kembali.

Bertahun-tahun kemudian, buku yang dianggap telah hilang tersebut kembali muncul.

Dan kemunculannya mempertemukan Kihachi dengan Momokawa Inako, putri keluarga pembuat sake di Fushimi.

Sejak saat itu, keduanya terlibat dalam pencarian buku tersebut sekaligus menghadapi pihak yang juga menginginkannya.

Inako Membawa Sisi Lain dari Jepang Era Meiji

Kalau Kihachi mewakili ilmu pengetahuan, penemuan, dan masa depan, Inako justru membawa sisi tradisional dari dunia cerita.

Inako berasal dari keluarga pembuat sake dan merupakan gadis yang religius.

Ia memiliki kepercayaan kuat terhadap Tuhan dan hal-hal spiritual, sementara Kihachi justru cenderung menolak sesuatu yang tidak bisa ia lihat atau buktikan.

Pertemuan keduanya akhirnya menciptakan benturan menarik:

ilmu pengetahuan vs kepercayaan.

masa depan vs tradisi.

listrik vs dunia yang masih dikuasai mesin uap.

Dan semuanya dibungkus dalam kisah petualangan sekaligus romance.

Ada Fushimi Inari dan Budaya Sake yang Memang Punya Akar Sejarah

Bukan cuma nama Kyoto yang digunakan.

Cerita juga mengambil elemen dari Fushimi, salah satu kawasan Kyoto yang memang terkenal dengan industri sake.

Dalam novel aslinya, Inako merupakan putri dari Momokawa Shuzō, keluarga pembuat sake di Fushimi. Pertemuan penting antara Inako dan Kihachi juga terjadi di Fushimi Inari.

Artinya, anime tidak menciptakan seluruh dunia dari nol.

Ia mengambil tempat, budaya, dan suasana historis yang nyata kemudian memasukkannya ke dalam dunia alternatif.

Ini yang membuat latarnya terasa jauh lebih hidup.

Kamu bisa melihat unsur tradisional Jepang berdampingan dengan teknologi uap dan eksperimen listrik.

Bahkan Ada Inspirasi dari Perkembangan Teknologi Jepang

Kihachi sendiri memiliki ketertarikan terhadap listrik setelah melihat mesin-mesin futuristik yang menggunakan listrik pada Pameran Industri Nasional Jepang ke-5 di Osaka.

Dalam materi resmi novel, pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Kihachi mulai percaya bahwa abad ke-20 adalah zaman listrik.

Bagian ini menarik karena anime menggunakan fenomena modernisasi dan pameran teknologi pada era tersebut sebagai inspirasi karakter, lalu mengubahnya menjadi bagian dari cerita fiksi.

Jadi, sekali lagi:

dasarnya punya hubungan dengan sejarah, tetapi kejadian dan dunia ceritanya tetap fiksi.

Yosuke: Pewaris Dunia Mesin Uap

Konflik teknologi semakin menarik dengan hadirnya Mizoe Yosuke.

Yosuke merupakan pewaris konglomerat besar yang bergerak dalam dunia teknologi uap.

Ia juga sedang didorong menuju pernikahan politik dengan Inako.

Namun Yosuke memiliki alasan sendiri untuk mengejar Nijusseiki Denki Mokuroku.

Pertanyaannya kemudian menjadi:

Kenapa seorang pewaris kerajaan teknologi uap begitu menginginkan buku tentang listrik?

Dan apa sebenarnya hubungan Yosuke dengan Seiroku?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu misteri utama cerita.

Jadi, Apakah Nijusseiki Denki Mokuroku Termasuk Anime Steampunk?

Secara estetika dan konsep, sangat terasa steampunk.

Tapi anime ini lebih tepat disebut sebagai sejarah alternatif dengan elemen steampunk, bukan sekadar anime steampunk biasa.

Sebab dunia ceritanya memang dibangun dari pertanyaan:

Bagaimana jika perkembangan teknologi pada awal abad ke-20 mengambil jalur berbeda?

Mesin uap berkembang.

Listrik tertinggal.

Kyoto berubah.

Dan kemudian muncul seorang anak laki-laki yang yakin bahwa masa depan seharusnya menjadi milik listrik.

Itulah yang membuat konsepnya menarik.

Kyoto Animation Membuat Dunia Ini Terlihat Seperti Lukisan

Selain konsep sejarahnya, salah satu daya tarik terbesar anime ini adalah visualnya.

Kyoto Animation menyebut penggunaan latar yang terinspirasi lukisan impresionis serta animasi yang sangat detail sebagai bagian dari pendekatan visual anime ini.

Hasilnya membuat Kyoto era alternatif tersebut terasa berbeda.

Asap dari mesin.

Bangunan tradisional.

Teknologi uap.

Cahaya.

Kawasan kota lama.

Semuanya dibuat seperti dunia yang berada di antara masa lalu dan masa depan.

Dan ini cocok banget dengan tema ceritanya.

Karena karakter-karakternya sendiri sedang berada di antara dua zaman:

tradisi dan modernisasi.

Siapa Saja Pengisi Suaranya?

Anime ini menghadirkan jajaran seiyuu populer Jepang.

Sakamoto Kihachi disuarakan oleh Yuma Uchida, sedangkan Momokawa Inako diperankan oleh Sora Amamiya.

Kemudian ada Mizoe Yosuke yang diisi oleh Koki Uchiyama, serta Sakamoto Seiroku yang diperankan oleh Daisuke Ono.

Kombinasi nama-nama tersebut membuat anime ini semakin menarik, terutama karena masing-masing karakter mempunyai posisi penting dalam konflik antara masa lalu, teknologi, keluarga, dan impian.

Anime Baru Kyoto Animation yang Punya Cerita Lebih Dalam dari Kelihatannya

Nijusseiki Denki Mokuroku – Eureka Evrika – bukan sekadar anime tentang anak muda yang ingin menemukan listrik.

Di balik cerita petualangannya terdapat pembahasan tentang perubahan zaman, modernisasi Jepang, benturan tradisi dengan teknologi, keluarga, kehilangan, cinta, dan impian untuk menciptakan masa depan.

Yang paling menarik adalah cara anime ini menggunakan sejarah.

Ia tidak mengatakan:

“Beginilah sejarah Jepang.”

Sebaliknya, anime berkata:

“Beginilah kira-kira kalau sejarah Jepang berkembang dengan cara yang berbeda.”

Dan dari situlah lahir dunia Kyoto yang penuh asap, mesin uap, budaya tradisional, serta mimpi tentang listrik.

Kesimpulan

Kalau kamu masuk ke Nijusseiki Denki Mokuroku hanya karena melihat label romance, kamu mungkin bakal kaget.

Karena anime ini punya lapisan cerita yang jauh lebih luas.

Ada sejarah Jepang, tetapi sudah dimodifikasi.

Ada budaya nyata, tetapi dimasukkan ke dunia alternatif.

Ada teknologi, tetapi jalur perkembangannya sengaja dibelokkan.

Ada romance, tetapi hubungan Kihachi dan Inako juga menjadi bagian dari konflik yang lebih besar.

Dan yang paling menarik, semua itu berlangsung di Kyoto awal abad ke-20 yang terasa seperti dunia steampunk versi Jepang.

Jadi, kalau kamu selama menonton merasa, “Gila, kok banyak banget sejarahnya?”, memang itu salah satu daya tarik anime ini.

Nijusseiki Denki Mokuroku tidak mengajak penonton melihat sejarah Jepang apa adanya.

Anime ini mengajak kita membayangkan:

“Bagaimana kalau sejarahnya dibikin belok sedikit?”

Dan ternyata hasilnya bisa sekeren ini⚡🚂

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *