A Silent Voice atau Koe no Katachi merupakan salah satu film anime Jepang yang berhasil membuat penontonnya tidak hanya menangis, tetapi juga ikut memikirkan kembali arti penyesalan, bullying, komunikasi, dan kesempatan kedua.

Sekilas, film yang dirilis pada 2016 ini memang terlihat seperti kisah remaja antara Shoya Ishida dan Shoko Nishimiya. Namun, semakin dalam ceritanya, semakin terlihat bahwa A Silent Voice bukan sekadar anime romantis.

Film produksi Kyoto Animation ini justru mengajak penonton melihat bagaimana sebuah tindakan di masa kecil dapat meninggalkan luka yang bertahun-tahun kemudian masih sulit disembuhkan.

Di balik kisah Shoya dan Shoko, ternyata terdapat sejumlah fakta menarik yang membuat A Silent Voice semakin layak dikenang.

1. A Silent Voice Berawal dari Manga One-Shot

Sebelum menjadi manga populer dan kemudian diadaptasi menjadi film anime, Koe no Katachi awalnya merupakan sebuah one-shot karya Yoshitoki Ōima.

Versi awal cerita tersebut diterbitkan di Bessatsu Shōnen Magazine pada 2008 dan kemudian mendapatkan Shōnen Magazine Newcomer Manga Award.

Cerita tersebut akhirnya berkembang menjadi manga serial yang diterbitkan di Weekly Shōnen Magazine pada 2013 hingga 2014.

Versi manganya kemudian dikumpulkan menjadi tujuh volume.

Menariknya, kisah yang awalnya hanya berupa cerita pendek tersebut berkembang menjadi cerita panjang mengenai bullying, penyesalan, komunikasi, dan proses menerima diri sendiri.

2. Yoshitoki Ōima Masih Sangat Muda Ketika Membuat Cerita Ini

Salah satu fakta yang cukup mengejutkan adalah usia Yoshitoki Ōima ketika mulai mengembangkan ide A Silent Voice.

Ōima masih sangat muda ketika karya tersebut pertama kali dibuat.

Meski begitu, cerita yang ia bangun sudah mengangkat persoalan yang cukup berat, mulai dari perundungan terhadap penyandang disabilitas hingga rasa bersalah seseorang setelah menyadari kesalahannya.

Hal tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan terbesar A Silent Voice.

Film ini tidak hanya menunjukkan siapa yang salah dan siapa yang menjadi korban, tetapi juga memperlihatkan bahwa dampak bullying dapat menghantui kedua belah pihak dalam waktu yang sangat panjang.

3. Kyoto Animation Membawa Cerita Shoya dan Shoko ke Layar Lebar

Adaptasi film A Silent Voice diproduksi oleh Kyoto Animation.

Film ini disutradarai oleh Naoko Yamada, dengan Reiko Yoshida sebagai penulis skenario dan Futoshi Nishiya sebagai desainer karakter.

Film tersebut kemudian dirilis di Jepang pada 17 September 2016.

Sentuhan Kyoto Animation membuat cerita terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Alih-alih hanya mengandalkan dialog, film menggunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh, suasana lingkungan, hingga perubahan atmosfer untuk memperlihatkan perasaan para karakternya.

4. Shoko Nishimiya Tidak Sekadar Dibuat sebagai Karakter Tunarungu

Shoko Nishimiya merupakan siswi tunarungu yang menjadi salah satu tokoh utama dalam cerita.

Namun, film tidak menjadikan kondisi Shoko sekadar sebagai “alat” untuk membuat cerita sedih.

Kesulitan Shoko dalam berkomunikasi justru menjadi bagian penting dari konflik cerita.

Penonton diajak melihat bagaimana kesalahpahaman dapat terjadi ketika seseorang tidak benar-benar berusaha memahami orang lain.

Karena itu, komunikasi menjadi salah satu tema terbesar dalam A Silent Voice.

5. Bahasa Isyarat Memiliki Peran Penting dalam Cerita

Salah satu elemen yang membuat A Silent Voice terasa berbeda adalah penggunaan bahasa isyarat.

Bahasa isyarat bukan sekadar pelengkap visual. Gerakan tangan, ekspresi dan cara karakter berinteraksi digunakan untuk memperlihatkan hubungan mereka.

Ketika komunikasi verbal terasa sulit, bahasa tubuh justru menjadi cara penting bagi karakter untuk menyampaikan perasaan.

Hal tersebut juga menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam penilaian Japan Media Arts Festival, yang menyoroti penggambaran bahasa isyarat dan kehidupan batin para karakter dalam film.

6. A Silent Voice Bukan Sekadar Anime Romantis

Ini mungkin menjadi fakta paling penting untuk memahami filmnya.

Banyak orang mengenal A Silent Voice karena hubungan Shoya dan Shoko.

Namun, menyebut film ini hanya sebagai anime romance tentu terlalu menyederhanakan ceritanya.

A Silent Voice membahas banyak persoalan sekaligus:

Shoya bukan karakter sempurna.

Ia pernah melakukan kesalahan besar terhadap Shoko ketika masih kecil.

Ketika dewasa, ia justru harus menghadapi konsekuensi dari perbuatannya sendiri.

Di sinilah perjalanan Shoya menjadi menarik.

Ia tidak hanya berusaha mendapatkan maaf dari Shoko, tetapi juga berusaha memahami dirinya sendiri.

7. Musik A Silent Voice Ikut Membentuk Emosi Film

Selain visual dan cerita, musik menjadi bagian penting dari pengalaman menonton A Silent Voice.

Musiknya digarap oleh Kensuke Ushio.

Sementara itu, lagu tema utama film adalah “Koi wo Shita no wa” yang dibawakan oleh aiko.

Film juga menggunakan My Generation” dari The Who sebagai bagian dari opening.

Musik tersebut membantu membangun suasana emosional dalam perjalanan Shoya dan Shoko.

Bahkan pada beberapa bagian, film tidak membutuhkan banyak dialog untuk menyampaikan emosi karena visual dan musik sudah cukup kuat untuk berbicara.

A Silent Voice Mendapat Pengakuan di Jepang dan Internasional

Kualitas A Silent Voice tidak hanya diakui oleh penontonnya.

Film ini memperoleh Excellence Award pada kategori Animation Division dalam Japan Media Arts Festival ke-20.

Film tersebut juga mendapat pengakuan di berbagai festival film internasional, termasuk Annecy International Animation Film Festival dan Sitges International Fantastic Film Festival.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa A Silent Voice bukan hanya populer karena kisah emosionalnya, tetapi juga mendapatkan apresiasi dari sisi artistik dan penceritaan.

Kenapa A Silent Voice Begitu Membekas?

Ada alasan mengapa A Silent Voice masih sering dibicarakan bertahun-tahun setelah dirilis.

Film ini tidak memberikan karakter yang sepenuhnya hitam atau putih.

Shoko adalah korban bullying, tetapi ia juga memiliki pergulatan emosional sendiri.

Shoya adalah pelaku bullying ketika kecil, tetapi kemudian tumbuh menjadi seseorang yang dihantui rasa bersalah.

Hubungan mereka pun tidak langsung berubah menjadi indah hanya karena Shoya merasa menyesal.

Semuanya membutuhkan proses.

Dan justru karena itulah kisah mereka terasa manusiawi.

Pesan Terbesar A Silent Voice

Pada akhirnya, A Silent Voice berbicara tentang satu hal yang sangat sederhana tetapi sulit dilakukan:

belajar memahami orang lain.

Kadang seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang.

Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Begitu pula dengan penyesalan.

Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi seseorang masih dapat memilih apa yang ingin dilakukannya setelah menyadari kesalahannya.

Itulah perjalanan Shoya.

Ia tidak bisa menghapus apa yang pernah dilakukannya terhadap Shoko.

Namun, ia bisa berusaha menjadi orang yang berbeda.

Kesimpulan

A Silent Voice atau Koe no Katachi bukan sekadar anime romantis yang dibuat untuk membuat penonton menangis.

Di balik kisah Shoya Ishida dan Shoko Nishimiya terdapat cerita tentang bullying, komunikasi, penyesalan, pengampunan, serta keberanian untuk memperbaiki diri.

Mulai dari manga one-shot karya Yoshitoki Ōima, adaptasi film oleh Kyoto Animation, penggunaan bahasa isyarat yang kuat, hingga musik Kensuke Ushio yang emosional, semuanya membuat A Silent Voice menjadi salah satu film anime yang meninggalkan kesan mendalam.

Mungkin itulah alasan mengapa setelah film selesai, pertanyaan yang tertinggal bukan hanya “apakah Shoya dan Shoko akan bersama?”

Melainkan:

“Kalau kita berada di posisi mereka, apakah kita mampu memaafkan dan memulai kembali?”